Wednesday, August 1, 2007

Resensi Buku baru "Pemakaman Langit"

Judul Buku: Pemakaman Langit
Judul Asli: Sky Burial
Penulis: Xinran Xue
Penerjemah: Ken Nadya
Terbit: Cetakan Pertama, Agustus 2007
Tebal: 288 hlm
Penerbit: Serambi

CINTAKU DI PEMAKAMAN LANGIT

Tibet yang terletak di wilayah Pegunungan Himalaya, saat ini merupakan provinsi dari Republik Rakyat Cina. Sebelumnya, Tibet dikenal sebagai wilayah tertutup yang misterius. Tibet menjadi salah satu provinsi Cina setelah invasi Tentara Merah Cina pada tahun 1950, yang dilanjutkan dengan penaklukan pada tahun 1951, ketika ibu kota Tibet – Lhasa- direbut tentara Cina dan Dalai Lama didongkel dari kekuasaannya. Pihak Cina melakukan penindasan dan pembantaian kepala suku dan sejumlah pendeta Budha (lama). Pendudukan Cina mengundang perlawanan rakyat dan pemuka Tibet yang menyebabkan banyak korban jiwa, terutama dari pihak Tibet. Tapi, karena ketidakseimbangan kekuatan persenjataan dan tidak adanya sorotan internasional, perlawanan Tibet berhasil dipadamkan.

Sky Burial yang diterjemahkan dan diterbitkan Gita Cerita Utama Serambi sebagai Pemakaman Langit, menggunakan invasi dan pendudukan Cina di Tibet sebagai latar awal. Novel ini ditulis oleh Xinran Xue, perempuan Cina mantan wartawan dan presenter radio kelahiran Beijing 1958. Pada tahun 1997, Xinran pindah ke London dan menjadi penulis buku. Buku pertamanya, The Good Women of China, laris secara internasional. Selain The Good Women of China dan Sky Burial, Xinran telah menerbitkan koleksi kolomnya, What the Chinese Don’t Eat, dan novel berjudul Miss Chopsticks (2007).

Meski tidak dijelaskan secara gamblang dalam buku kecil ini, agaknya Sky Burial ditulis berdasarkan kisah nyata. Hal ini tercermin pada ucapan terima kasih dari Xinran (hlm. 282).

Pada tahun 1994, ketika bekerja sebagai wartawan dan presenter radio di Nanjing, dalam siaran radionya, seorang pendengar menelepon dari Suzhou, menginformasikan tentang seorang perempuan aneh yang baru saja kembali dari Tibet bernama Shu Wen. Setelah pertemuan dengan Shu Wen, pada tahun 1995, Xinran menjelajahi Tibet untuk menghayati apa yang telah dialamai Shu Wen selama pengembaraannya di Tibet. “Selama sepuluh tahun buku ini bersemayam dalam hatiku, mematang laksana anggur. Sekarang, akhirnya, bisa kupersembahkan kepadamu,” kata Xinran (hlm. 280) ketika akhirnya kisah Shu Wen berhasil ia selesaikan dalam bentuk buku pada tahun 2004.

Baru tiga minggu menikah, Kejun, suami Shu Wen, sudah harus pergi ke Tibet menjadi dokter Tentara Pembebasan Rakyat (People’s Liberation Army -tentu saja menurut pihak Cina). Lewat dua bulan setelah itu, Wen mendapat kabar yang sangat singkat mengenai nasib suaminya. Kejun tewas dalam sebuah insiden di Tibet bagian timur, 14 Maret 1958. Pemberitahuan yang tidak memadai bagi Wen, apalagi tidak ada bukti jasad Kejun, membuat Wen bertekad mencari suaminya di Tibet. Ia menyuntikkan keyakinan dalam dirinya bahwa suaminya masih hidup. Pekerjaannya sebagai dokter –dermatologis- membuat Wen tidak mengalami kesulitan untuk bergabung dengan tentara Cina yang akan dikirim ke Tibet.

Setelah melewati rute Suzhou-Zhengzou-Chengdu, Wen akhirnya bisa menghirup udara Tibet. Dalam perjalanan yang mempertaruhkan nyawa, Wen dan rekan-rekannya bertemu Zhuoma. Zhuoma adalah anak bangsawan Tibet yang bisa bahasa Cina karena pernah bersekolah di Beijing. Zhuoma baru saja terpisah dari Tiananmen, pemandunya, mantan pelayan keluarga yang diam-diam dicintainya. Selanjutnya kedua perempuan ini meretas wilayah Tibet untuk mencari cinta mereka. Mereka bertemu dengan sebuah keluarga nomadik yang menerima kehadiraan mereka dengan baik. Perjalanan mereka kemudian tidak hanya menjadi perjalanan mencari cinta yang hilang, tapi juga perjalanan Wen mengenai budaya, alam, tradisi, keyakinan, dan cara hidup orang Tibet. Musim demi musim silih berganti, dan dalam sebuah musim, Zhuoma diculik, hilang tanpa jejak. Saat itu, Wen benar-benar telah kehilangan kontak dengan dunia luar. Ia telah menjadi salah satu manusia pengembara di tengah keluarga nomadik. Meski demikian,keyakinan untuk bertemu dengan Kejun masih tetap memijar dalam hatinya. Apalagi, keluarga Nomadik itu akhirnya memutuskan membantu pencarian Wen. Ketika tiba di sebuah tempat bernama Wendugongba, bersamaan dengan diadakannya upacara bernama Dharmaraja, Wen baru sadar, ia telah melewati puluhan tahun sebagai pengembara. Sampai saat itu, ia masih kehilangan jejak suaminya.

Di sebuah kawasan yang dikenal sebagai “Seratus Danau”, setelah lebih dari 30 tahun mengembara, akhirnya Wen memutuskan untuk kembali ke Cina. Saat itu, Wen telah menjelma dari seorang perempuan berusia 26 tahun menjadi seorang perempuan tua penganut Budha Tibet dengan penampilan Tibet tapi berwajah karakteristik Cina.

Akankah Wen bertemu kembali dengan Zhuoma setelah sahabatnya ini diculik dan lenyap tak tentu rimbanya? Akankah Wen bertemu dengan Kejun setelah lebih dari 30 tahun berpisah? Apa yang terjadi dengan kehidupan Kejun sebenarnya?

Pemakaman Langit tentu saja akan memberikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Pemakaman Langit itu sendiri? Sampai novel mencapai bagian-bagian akhir, saya terus bertanya-tanya alasan pemberian judul ini. Tapi, ketika akhirnya saya menemukan alasan pemberian judul, menurut saya, tidak ada lagi judul yang lebih tepat dari Pemakaman Langit.

Dalam masyarakat Tibet, ada sebuah tradisi memakamkan orang mati yang disebut pemakaman langit. Setelah dimandikan, rambut di sekujur tubuh dan kepala dibabat habis, dibalut sehelai kain putih, jenazah diletakkan dalam posisi duduk dengan kepala merunduk di atas lutut. Pada hari yang ditentukan sebagai hari baik, jenazah digotong ke altar pemakaman langit. Para lama dari biara lokal datang untuk mengumandangkan naskah-naskah suci guna membebaskan roh si mati dari penebusan dosa. Sementara itu seorang yang disebut guru pemakaman langit akan meniup terompet tanduk, menyulut api murbei untuk mengundang burung-burung nazar, memilah-milah tubuh si mati, meremukkan tulang-belulangnya dengan urutan yang telah ditetapkan. Jenazah dipilah-pilah dengan cara yang berbeda-beda, tergantung sebab kematian. Tapi, apa pun caranya, sayatan pisau harus tanpa cela. Ada keyakinan jika sayatan tidak benar, iblis-iblis akan datang merebut roh si mati. Agar jenazah benar-benar dimakan burung
nazar, termasuk tulangnya, terlebih dulu yang disajikan kepada para burung adalah tulang-tulang yang terkadang dicampur dengan mentega yak. Jika si mati, selama hidup telah banyak mengonsumsi jamu-jamuan, tubuhnya akan mengeluarkan aroma obat yang kuat sehingga burung nazar tidak menyukainya. Mengingat sesuai keyakinan semua jenazah harus dilahap habis supaya tidak diambil iblis, mentega ditambahkan dengan racikan khusus lain supaya bisa dinikmati para burung (hlm. 225 – 227).

Nah, apa hubungan pemakaman langit dengan kehidupan Wen? Bacalah sendiri buku ini untuk menemukan jawaban.

Pemakaman Langit merupakan sebuah kisah perjalanan pencarian cinta yang hilang, bukan kisah cinta mendayu-dayu yang sering digambarkan dalam novel-novel romantis. Hampir seluruh buku berisi perjalanan Wen, dan bukan perjalanan Kejun. Cinta Kejun pada Wen memang sangat dalam, tersirat jelas pada bagian akhir buku harian Kejun yang isinya bisa membuat mata berkaca-kaca (hlm. 242 - 243). Tapi, buku ini bukan tentang Kejun dan kebesaran cintanya, melainkan Wen dengan kesetiaan dan keteguhan cintanya yang luar biasa. Apalagi mengingat waktu dan jalan yang panjang yang harus ia lewatkan, terasing dari dunia luar tempat ia berasal, untuk menemukan akhir pencariannya. Rasanya, tidak ada pembaca yang tidak akan tercolek sisi kelembutannya, begitu tiba di puncak pencarian Wen.

Seperti apa yang dialami Wen, pembaca juga akan menemukan kehidupan dan budaya Tibet yang mungkin hingga saat ini tidak banyak diekplorasi penulis-penulis buku. Saya pribadi mengenal Tibet hanya cerita seputar bentangan alam, pemerintahan dan, tentu saja, Dalai Lamanya. Tapi dalam buku ini, Xinran akan membawa pembaca menukik lebih jauh ke relung-relung dasar kehidupan, tradisi, dan budaya Tibet yang (mungkin) luput dari jangkauan selama ini. Tak disangka, Tibet menjadi seting sebuah kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang terasa pahit, mengharukan, tapi akhirnya menguatkan dan memperkaya jiwa pembaca.

Saya sungguh yakin, kisah Wen benar-benar dituliskan secara apa adanya. Tapi terkadang selama membaca, saya merasa kisah ini seolah-olah sangat tidak nyata. Saya seperti sedang menonton film sejenis The Knot (karya sutradara Lin Yi dengan pemain Chen Kun dan Vivian Hsu, 2006), yang kebetulan memiliki elemen ‘penghancur’ cinta yang sama: Tibet, dokter tentara, dan Tentara Pembebasan Rakyat. Selain itu, dalam buku ini, kita juga akan menemukan keberadaan karakter-karakter seperti Zhuoma atau Tiananmen, yang jalan hidupnya terasa hanya ada di dunia fiksional.

Kisah perjalanan pencarian cinta yang memukau dan menggetarkan ini dijabarkan dalam 9 bab menggunakan perspektif orang ketiga, sebagai pengulangan kisah yang dituturkan Shu Wen kepada Xinran. Ada beberapa potongan kisah menggunakan perspektif orang pertama, yaitu dari sudut pandang Xinran. Secara keseluruhan, gaya penulisan yang digunakan Xinran tergolong sederhana, tidak berbelit-belit, membuat novel bisa dengan mudah dicerna.