Mata Giok (The Eye of Jade)
Penulis: Diane Wei Liang
Halaman: 280
Penerbit: Dragon Writers (Pineapple Publishing)
ISBN: 978-979-16440-4
Sinopsis:
Sebuah novel berlatarbelakang Revolusi Kebudayaan dalam perspektif hari ini. Mei, karakter dalam novel ini adalah detektif partikelir, satu jenis pekerjaan yang tak jamak dijumpai di Cina Daratan. Mei mempunyai sekretaris pria, yang juga jarang terjadi di negara paternalistik ini. Hilangnya "Mata Giok" membuka mata tentang Peristiwa Tiannamen dan sebuah nilai keluarga Cina pada masa lalu.
Diane menuturkan dengan kata yang indah dan sederhana, tetapi novel ini menjadi yang tak biasa - karena diilatar belakangi Peristiwa Tiananmen, situasi politik Cina, dan Maoisme.
Tentang penulis:
Diane Wei Liang, bergelar Phd dari Carnegie Mellon, hari ini hidup antara London dan New York, mengajar Kajian Bisnis. Menulis memoar dengan pendekatan fiksi 'Lake with No Name' sebuah danau di tengah kampus Universitas Beijing, tempat Diane kuliah sebelum kabur keluar Cina. Diane menulis karakter Lara menyampaikan pesan bahwa manusia berubah, roda kehidupan bergulir terus, tumbuh, menikah, bertanggungjawab terhadap anak, dan mati. Bahwa semua kekacauan politis adalah sementara, dan akan segera menghilang.
Friday, August 31, 2007
Sinopsis buku" Mata Giok (The Eye of Jade) "
Saturday, August 25, 2007
Sinopsis buku" ENRIQUE’S JOURNEY "
ENRIQUE’S JOURNEY
Petualangan Seorang Anak Di Atas Kereta Api Maut Demi
Bersatu Kembali Dengan Ibunya
Penulis: Sonia Nazario
Format: 13 x 20,5 cm
Jumlah halaman: viii + 396 hlmn
ISBN: 978-979-1227-05-6
Dia bercerita tentang gangster yang menguasai atap kereta api, bandit di sepanjang rel kereta, polisi Meksiko yang berpatroli di stasiun-stasiun kereta api yang memperkosa serta merampok, dan bahaya kehilangan kaki saat naik atau turun dari kereta yang sedang bergerak. Selama perjalanannya di atap api kereta melalui Meksiko, katanya pada saya, dia menyaksikan lima peristiwa di mana migran dibuntungkan oleh kereta api. Dia melihat seorang laki-laki kehilangan separuh kaki saat berusaha naik ke atas kereta. Dia melihat enam gangster menarik pisau mereka dan melempar seorang gadis dari kereta hingga tewas. Suatu kali, dia jatuh dari kereta dan mendarat tepat di samping roda-roda baja yang sedang berputar. “Aku mengira aku sudah mati. Tubuhku sangat dingin,” katanya.
Sonia Nazario, peraih penghargaan Pulitzer tahun 2003 untuk kisah Enrique’s Journey ini, dengan berani melakukan perjalanan itu. Untuk menulis dengan akurat dan penuh nuansa, ia berpendapat bahwa dirinya harus benar-benar mengalami apa yang dirasakan anak-anak Latin saat melakukan perjalanan ilegal menuju Amerika Serikat. Selama berbulan-bulan, saat melakukan perjalanan mengikuti jejak kaki Enrique, seorang anak Honduras yang dipilihnya sebagai contoh kasus, ia hampir terus-menerus hidup dalam bahaya dipukuli, dirampok, atau diperkosa.
Setiap tahun, 48.000 anak seperti Enrique pergi ke Amerika Serikat dengan melakukan perjalanan di atas atap kereta api barang. Mereka menyebutnya Al Train de la Muerte atau Kereta Api Maut. Di perbatasan, untuk menghindari petugas imigrasi, mereka berlarian dan melompat dari gerbong ke gerbong yang sedang melaju. Beberapa pergi berhari-hari tanpa makan. Jika kereta berhenti, mereka merunduk di dekat rel, menangkupkan kedua tangan, dan mengambil beberapa sesap air dari genangan yang telah tercemar minyak disel. Mereka tidur di atas pohon, di rumput-rumput yang tinggi, atau beralaskan daun. Dan, 75% dari anak-anak ini, laki-laki dan perempuan, berani menantang perjalanan maut “hanya” untuk mencari ibu mereka. Beberapa masih bayi saat ibu mereka pergi; mereka mengenal ibu mereka hanya dari foto-foto yang dikirimkan ke rumah. Ya, kerinduan akan ibu-lah yang sanggup membangkitkan hasrat sebesar itu. Tidak mengherankan bila di tangan penulis sebesar Sonia, Enrique’s Journey
dianggap sebagai salah satu kisah petualangan terbesar abad dua puluh satu.
Labels: Resensi
Tuesday, August 21, 2007
TEORI KONSPIRASI MANUSIA TEGAK
Judul : Kill!
Diterjemahkan dari : The Straw Men (2002)
Penulis: Michael Marshall
Penerjemah: Ella Elviana
Tebal: 524 hlm; 14 X 21 cm
Terbit: Cetakan 1, Juli 2007
Penerbit: Dastan Books
TEORI KONSPIRASI MANUSIA TEGAK
Michael Marshall -lengkapnya Michael Marshall Smith, adalah penulis asal Inggris yang telah menghasilkan berbagai karya berupa novel, cerita pendek, novella, maupun skenario film. Novel perdana lelaki kelahiran Inggris tahun 1965 ini, Only Forward (1994, yang ditulis menggunakan nama Michael Marshall Smith, telah memenangkan August Derleth Award dan Philip K. Dick Award. Marshall tercatat sebagai penulis yang beberapa kali memenangkan BASF Award (kategori fiksi pendek) dan British Fantasy Award. The Straw Men adalah novel keempat Marshall setelah Only Forward, Spares (1996), dan One of Us (1998).
Edisi Indonesia The Straw Men yang merupakan hasil terjemahan Ella Elviana diterbitkan Penerbit Dastan dengan judul baru, KILL!. Pada sampul depan yang provokatif, ada embel-embel kalimat: EVOLUSI HARUS BERLANJUT. Mereka yang membunuh Akan Terselamatkan. Mereka Yang Tidak, Menjadi Korban...
Kill! dibuka dengan sebuah kejadian berdarah yang terjadi pada 30 Oktober 1991 di sebuah restoran McDonald di Palmerston, Pennsylvania. Di tengah-tengah acara makan siang, dua orang pria menghamburkan peluru dari senapan semiotomatis dan menewaskan 68 orang. Salah satu pembunuh, yang masih remaja, tewas dibunuh oleh pasangannya yang lebih tua, yang segera menghilang pasca kejadian.
Sepuluh tahun kemudian –masa kini dalam novel- seorang mantan agen CIA bernama Ward Hopkins, kembali ke Dyesburg, Montana. Ia datang untuk menghadiri kematian kedua orang tuanya karena kecelakaan mobil. Sehari setelah pemakaman, secara kebetulan, Ward menemukan sebuah novel terselip dalam sofa milik ayahnya, dengan secarik kertas bertuliskan: "Kami tidak mati."
Sementara itu, John Zandt yang telah meninggalkan pekerjaannya sebagai detektif LAPD dan menghabiskan waktunya di Pimonta, Vermont selatan, dikunjungi oleh Nina Baynam, seorang agen FBI. Dua tahun sebelumnya mereka terlibat pengusutan kasus menghilangnya beberapa gadis remaja. Mereka sempat terlibat perselingkuhan sampai akhirnya Karen Zandt, putri John, menjadi korban kelima. John menemukan tersangka penculiknya. Nina datang untuk mengajak Zandt melanjutkan investigasi mereka. Di Santa Monica, seorang gadis remaja bernama Sarah Becker diculik dan hilang bagaikan ditelan bumi. Diduga, penculik yang sama yang dulunya digelari Anak Tukang Kirim (The Delivery Boy) beraksi kembali. Padahal John telah membunuh tersangka penculik gadis remaja yang memproklamasikan namanya sebagai si Manusia Tegak (The Upright Man).
Setelah melakukan penculikan, si Manusia Tegak memiliki kebiasaan mengirimkan sweter dengan sulaman nama korban menggunakan rambut korban sendiri kepada keluarganya. Tapi, Nina menemukan rambut yang digunakan pada sweter Sarah adalah rambut Karen.
Pesan singkat Donald Hopkins membuat Ward terusik dan ingin tahu secara persis peristiwa tabrakan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Sebuah video yang ditemukan dalam VCR milik ayahnya kian mendorong Ward untuk menelisik misteri kematian orang tuanya. Pengusutan Ward yang dibantu temannya, Bobby Nygard, mengantarkannya ke sebuah perumahan eksklusif yang pernah menarik perhatian Donald Hopkins.
Secara tak terduga, dalam kabut kebingungan, Zandt menemukan kunci misteri penculikan dan pembunuhan gadis-gadis itu. Ternyata, si Manusia Tegak tidak bekerja sendirian. Seiring dengan itu, investigasi Ward dan Bobby, menuntun mereka ke dalam dunia sebuah kelompok yang menamakan diri The Straw Men. Selanjutnya, investigasi mereka akan membuhul peristiwa kematian orang tua Ward, penculikan Sarah Becker, dan penyelidikan Nina dan Zandt. Dengan si Manusia Tegak sebagai pengikat.
Masalahnya sekarang, siapa si Manusia Tegak ini? Pengungkapan wajah si Manusia Tegak tidak hanya akan menguliti keberadaan The Straw Men yang ternyata telah lama eksis, tapi juga akan mengelupas rahasia kehidupan Ward yang tidak pernah ia ketahui.
Pada klimaks yang mencekam, ketika semua plot tersimpul menjadi satu dan padu, akan terburai sepenuhnya rencana gila sekelompok manusia yang didasari oleh sebuah teori konspirasi gila.
Hadir dalam 3 bagian besar dengan 37 bab (termasuk prolog dan epilog), sejak awal Michael Marshall telah membuat pembaca bertanya-tanya ke mana plot akan digulirkan. Setelah prolog misterius yang dipaparkan secara terkendali, Marshall membawa pembaca masuk dalam beberapa plot cerita: kehidupan Ward Hopkins dan perjalanan menguak misteri kematian orang tuanya, kehidupan John Zandt dan perjuangannya memecahkan misteri hilangnya gadis-gadis dengan Nina Baynam, juga cerita penculikan Sarah Becker dan interaksinya dengan si Manusia Tegak. Pelan-pelan, di sela-sela kejutan yang dibeberkan, akan tersingkap sesungguhnya semua plot itu saling kelindan. Hanya untuk mencapai simpulnya, pembaca harus sedikit sabar. Karena Marshall bukan pencerita yang terburu-buru.
Cerita digulirkan menggunakan 2 perspektif. Perspektif orang ketiga dan orang pertama. Untuk orang pertama, Marshall menggunakan Ward sebagai narator. Entah pertimbangan apa yang digunakan. Selama membaca novel ini, saya tidak melihat perbedaan signifikan yang muncul lantaran penggunaan teknik ini. Mungkin, Marshall ingin tampil agak beda, dan ini sah-sah saja. Apalagi, cerita tetap bisa dinikmati.
Oleh Marshall, plot kelam rancangannya digelorakan oleh karakter-karakter kuat yang memiliki kehidupan yang problematis. Hasilnya, cerita menjadi lebih menarik karena tidak hanya sepenuhnya membedah kasus yang ada. Tapi juga kehidupan para karakter lebih dalam. Dan yang jelas, dengan tidak menciptakan lanturan.
Kendati wajah si Manusia Tegak telah ditelanjangkan, dilihat dari pakem sebuah novel pada umumnya, kisah dalam novel ini sejatinya memang belum tuntas. Kecuali, Marshall sengaja memberikan penyelesaian cerita seperti itu. Tapi rupanya kisah si Manusia Tegak ini telah dikembangkan Marshall dalam 2 novel berikutnya, The Lonely Dead (judul Amerika, The Upright Man, 2004) dan Blood of Angels (2005) sehingga keseluruhannya menjadi novel trilogi. Dengan demikian, kita berharap, cerita benar-benar akan dituntaskan secara memuaskan.
Embel-embel di bawah judul edisi Indonesia pada sampul depan memang benar-benar menyiratkan isi novel yang saat ini telah dikembangkan menjadi komik berseri. Jadi, tidak mengada-ada atau bombastis. Hanya, untuk memahami maksudnya, mesti membaca novelnya dulu. Embel-embel itu merupakan bagian sebuah teori gila yang tertuang dalam sebuah tulisan bertajuk Manifesto Manusia (Straw Man Manifesto), yang menjadi landasan ideal karakter antagonis utama novel.
Penasaran? Bagaimana kalau Anda baca sendiri?
Resensi By : JODY SETIAWAN
Labels: Resensi
Saturday, August 4, 2007
Resensi Novel TeenLit: ALICE: REMAJA TANGGUNG
TeenLit: ALICE: REMAJA TANGGUNG
Alice In-Between
Phyllis Reynolds Naylor
Novel remaja terjemahan; GM 31207025; ISBN
979-22-3075-0; 152hlm; 13.5x20cm
Alice sekarang berusia tiga belas tahun. Alice seakan berada dalam posisi remaja tanggung. Dia tidak sekeren dan sedewasa Pamela, sahabatnya, tapi juga tidak begitu kekanakan seperti sahabatnya yang satu lagi, Elizabeth. Dari segi ukuran tubuh juga
begitu-serba tanggung, membuat Alice sebal karena dia masih saja belum bisa dikatakan remaja, apalagi dewasa.
Tiga belas tahun adalah usia yang mendebarkan bagi Alice. Mulai dari melakukan tes pensil, kencan bersama Lester, abangnya, "menyelamatkan nyawa" tiga orang, pergi ke Chicago bersama Elizabeth dan Pamela, mendeklamasikan puisi di depan kelas, makan malam di rumah sahabat istimewanya-Patrick---sampai menjenguk guru kelas enamnya yang terkena serangan jantung.
Benar-benar musim panas yang seru dan penuh kejutan!
Labels: Resensi
Resensi Novel TeenLit: ALICE: CAPEKNYA JADI NONA RUMAH
TeenLit: ALICE: CAPEKNYA JADI NONA RUMAH
Alice in April
Phyllis Reynolds Naylor
Novel remaja terjemahan; GM 31207024; ISBN
979-22-3076-9; 160hlm; 13.5x20cm
Alice hampir berusia tiga belas tahun sekarang. Aunt Sally mengingatkannya bahwa sekarang Alice menjadi Nona Rumah-lengkap dengan semua kewajibannya.
Sekarang giliran Alice untuk menjaga dan merawat ayah serta abangnya.
Alice kewalahan menambal pakaian, beberes, memasak, menata rumah, membuat jadwal, mendukung kisah cinta ayah dan abangnya. Belum lagi memikirkan tingkah laku cowok-cowok kelas tujuh yang menyebalkan. Coba,berani-beraninya mereka menamai cewek-cewek dengannama negara bagian Amerika... berdasarkan ukuran dadanya! Alice jadi stres menerka-nerka nama apa yang dia dapat.
Berakrobat sana-sini, Alice sadar menjadi Nona rumah ternyata sulitnya minta ampun. Saat Aliceharus mengadakan pesta ulang tahun untuk ayahnya, kesabaran dan keuletan Alice benar-benar diuji.
Sanggupkah Alice mempertahankan posisinya sebagai Nona Rumah?
Judul-judul dalam seri Alice:
1. Kasihaaan Deh Alice!
2. Memang Enak punya Pacar?
3. Ngapain Ikut-ikutan?
4. Capeknya Jadi Nona Rumah
5. Remaja Tanggung
Labels: Resensi
Wednesday, August 1, 2007
Resensi buku baru TeenLit: " DYLAN, I LOVE YOU"
TeenLit: DYLAN, I LOVE YOU
Stephanie Zen
Novel remaja karya asli; GM 31207023; ISBN
979-22-3065-3; 296hlm; 13.5x20cm
Berpikir kalau semua cewek blasteran pasti cantik? Oho... kamu salah besar! Lihat deh Alice. Meski blasteran, hidungnya nggak bangir, dia nggak punya tinggi badan 175 cm, dan dia benci banget jadi setengah bule karena sewaktu kecil selalu diejek
"bule kampung"! Tapi hidup Alice langsung berubah total setelah dia ketemu Dylan Siregar, vokalis band Skillful. Cowok itu benar-benar jenis cowok yang adorable; ganteng, terkenal, keren, tajir, low profile, pokoknya sanggup bikin para makhluk bernama cewek klepek-klepek! Masalahnya, Alice nggak tau gimana caranya supaya dekat sama Dylan. Cowok itu kan selebriti, sementara dia cuma anak SMA biasa. Dan Alice tambah jengkel karena temannya menyarankan dia untuk nggak mengkhayal terlalu muluk tentang Dylan. Memangnya salah ya, kalau kita berkhayal bisa pacaran sama
seleb? Dan emangnya... seandainya nih, impian itu tercapai, apa jadi pacar Dylan benar-benar seindah yang Alice bayangkan?
TeenLit karya Stephanie Zen sebelumnya: ANAK BAND
Labels: Resensi
Resensi Buku baru "Pemakaman Langit"
Judul Buku: Pemakaman Langit
Judul Asli: Sky Burial
Penulis: Xinran Xue
Penerjemah: Ken Nadya
Terbit: Cetakan Pertama, Agustus 2007
Tebal: 288 hlm
Penerbit: Serambi
CINTAKU DI PEMAKAMAN LANGIT
Tibet yang terletak di wilayah Pegunungan Himalaya, saat ini merupakan provinsi dari Republik Rakyat Cina. Sebelumnya, Tibet dikenal sebagai wilayah tertutup yang misterius. Tibet menjadi salah satu provinsi Cina setelah invasi Tentara Merah Cina pada tahun 1950, yang dilanjutkan dengan penaklukan pada tahun 1951, ketika ibu kota Tibet – Lhasa- direbut tentara Cina dan Dalai Lama didongkel dari kekuasaannya. Pihak Cina melakukan penindasan dan pembantaian kepala suku dan sejumlah pendeta Budha (lama). Pendudukan Cina mengundang perlawanan rakyat dan pemuka Tibet yang menyebabkan banyak korban jiwa, terutama dari pihak Tibet. Tapi, karena ketidakseimbangan kekuatan persenjataan dan tidak adanya sorotan internasional, perlawanan Tibet berhasil dipadamkan.
Sky Burial yang diterjemahkan dan diterbitkan Gita Cerita Utama Serambi sebagai Pemakaman Langit, menggunakan invasi dan pendudukan Cina di Tibet sebagai latar awal. Novel ini ditulis oleh Xinran Xue, perempuan Cina mantan wartawan dan presenter radio kelahiran Beijing 1958. Pada tahun 1997, Xinran pindah ke London dan menjadi penulis buku. Buku pertamanya, The Good Women of China, laris secara internasional. Selain The Good Women of China dan Sky Burial, Xinran telah menerbitkan koleksi kolomnya, What the Chinese Don’t Eat, dan novel berjudul Miss Chopsticks (2007).
Meski tidak dijelaskan secara gamblang dalam buku kecil ini, agaknya Sky Burial ditulis berdasarkan kisah nyata. Hal ini tercermin pada ucapan terima kasih dari Xinran (hlm. 282).
Pada tahun 1994, ketika bekerja sebagai wartawan dan presenter radio di Nanjing, dalam siaran radionya, seorang pendengar menelepon dari Suzhou, menginformasikan tentang seorang perempuan aneh yang baru saja kembali dari Tibet bernama Shu Wen. Setelah pertemuan dengan Shu Wen, pada tahun 1995, Xinran menjelajahi Tibet untuk menghayati apa yang telah dialamai Shu Wen selama pengembaraannya di Tibet. “Selama sepuluh tahun buku ini bersemayam dalam hatiku, mematang laksana anggur. Sekarang, akhirnya, bisa kupersembahkan kepadamu,” kata Xinran (hlm. 280) ketika akhirnya kisah Shu Wen berhasil ia selesaikan dalam bentuk buku pada tahun 2004.
Baru tiga minggu menikah, Kejun, suami Shu Wen, sudah harus pergi ke Tibet menjadi dokter Tentara Pembebasan Rakyat (People’s Liberation Army -tentu saja menurut pihak Cina). Lewat dua bulan setelah itu, Wen mendapat kabar yang sangat singkat mengenai nasib suaminya. Kejun tewas dalam sebuah insiden di Tibet bagian timur, 14 Maret 1958. Pemberitahuan yang tidak memadai bagi Wen, apalagi tidak ada bukti jasad Kejun, membuat Wen bertekad mencari suaminya di Tibet. Ia menyuntikkan keyakinan dalam dirinya bahwa suaminya masih hidup. Pekerjaannya sebagai dokter –dermatologis- membuat Wen tidak mengalami kesulitan untuk bergabung dengan tentara Cina yang akan dikirim ke Tibet.
Setelah melewati rute Suzhou-Zhengzou-Chengdu, Wen akhirnya bisa menghirup udara Tibet. Dalam perjalanan yang mempertaruhkan nyawa, Wen dan rekan-rekannya bertemu Zhuoma. Zhuoma adalah anak bangsawan Tibet yang bisa bahasa Cina karena pernah bersekolah di Beijing. Zhuoma baru saja terpisah dari Tiananmen, pemandunya, mantan pelayan keluarga yang diam-diam dicintainya. Selanjutnya kedua perempuan ini meretas wilayah Tibet untuk mencari cinta mereka. Mereka bertemu dengan sebuah keluarga nomadik yang menerima kehadiraan mereka dengan baik. Perjalanan mereka kemudian tidak hanya menjadi perjalanan mencari cinta yang hilang, tapi juga perjalanan Wen mengenai budaya, alam, tradisi, keyakinan, dan cara hidup orang Tibet. Musim demi musim silih berganti, dan dalam sebuah musim, Zhuoma diculik, hilang tanpa jejak. Saat itu, Wen benar-benar telah kehilangan kontak dengan dunia luar. Ia telah menjadi salah satu manusia pengembara di tengah keluarga nomadik. Meski demikian,keyakinan untuk bertemu dengan Kejun masih tetap memijar dalam hatinya. Apalagi, keluarga Nomadik itu akhirnya memutuskan membantu pencarian Wen. Ketika tiba di sebuah tempat bernama Wendugongba, bersamaan dengan diadakannya upacara bernama Dharmaraja, Wen baru sadar, ia telah melewati puluhan tahun sebagai pengembara. Sampai saat itu, ia masih kehilangan jejak suaminya.
Di sebuah kawasan yang dikenal sebagai “Seratus Danau”, setelah lebih dari 30 tahun mengembara, akhirnya Wen memutuskan untuk kembali ke Cina. Saat itu, Wen telah menjelma dari seorang perempuan berusia 26 tahun menjadi seorang perempuan tua penganut Budha Tibet dengan penampilan Tibet tapi berwajah karakteristik Cina.
Akankah Wen bertemu kembali dengan Zhuoma setelah sahabatnya ini diculik dan lenyap tak tentu rimbanya? Akankah Wen bertemu dengan Kejun setelah lebih dari 30 tahun berpisah? Apa yang terjadi dengan kehidupan Kejun sebenarnya?
Pemakaman Langit tentu saja akan memberikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Pemakaman Langit itu sendiri? Sampai novel mencapai bagian-bagian akhir, saya terus bertanya-tanya alasan pemberian judul ini. Tapi, ketika akhirnya saya menemukan alasan pemberian judul, menurut saya, tidak ada lagi judul yang lebih tepat dari Pemakaman Langit.
Dalam masyarakat Tibet, ada sebuah tradisi memakamkan orang mati yang disebut pemakaman langit. Setelah dimandikan, rambut di sekujur tubuh dan kepala dibabat habis, dibalut sehelai kain putih, jenazah diletakkan dalam posisi duduk dengan kepala merunduk di atas lutut. Pada hari yang ditentukan sebagai hari baik, jenazah digotong ke altar pemakaman langit. Para lama dari biara lokal datang untuk mengumandangkan naskah-naskah suci guna membebaskan roh si mati dari penebusan dosa. Sementara itu seorang yang disebut guru pemakaman langit akan meniup terompet tanduk, menyulut api murbei untuk mengundang burung-burung nazar, memilah-milah tubuh si mati, meremukkan tulang-belulangnya dengan urutan yang telah ditetapkan. Jenazah dipilah-pilah dengan cara yang berbeda-beda, tergantung sebab kematian. Tapi, apa pun caranya, sayatan pisau harus tanpa cela. Ada keyakinan jika sayatan tidak benar, iblis-iblis akan datang merebut roh si mati. Agar jenazah benar-benar dimakan burung
nazar, termasuk tulangnya, terlebih dulu yang disajikan kepada para burung adalah tulang-tulang yang terkadang dicampur dengan mentega yak. Jika si mati, selama hidup telah banyak mengonsumsi jamu-jamuan, tubuhnya akan mengeluarkan aroma obat yang kuat sehingga burung nazar tidak menyukainya. Mengingat sesuai keyakinan semua jenazah harus dilahap habis supaya tidak diambil iblis, mentega ditambahkan dengan racikan khusus lain supaya bisa dinikmati para burung (hlm. 225 – 227).
Nah, apa hubungan pemakaman langit dengan kehidupan Wen? Bacalah sendiri buku ini untuk menemukan jawaban.
Pemakaman Langit merupakan sebuah kisah perjalanan pencarian cinta yang hilang, bukan kisah cinta mendayu-dayu yang sering digambarkan dalam novel-novel romantis. Hampir seluruh buku berisi perjalanan Wen, dan bukan perjalanan Kejun. Cinta Kejun pada Wen memang sangat dalam, tersirat jelas pada bagian akhir buku harian Kejun yang isinya bisa membuat mata berkaca-kaca (hlm. 242 - 243). Tapi, buku ini bukan tentang Kejun dan kebesaran cintanya, melainkan Wen dengan kesetiaan dan keteguhan cintanya yang luar biasa. Apalagi mengingat waktu dan jalan yang panjang yang harus ia lewatkan, terasing dari dunia luar tempat ia berasal, untuk menemukan akhir pencariannya. Rasanya, tidak ada pembaca yang tidak akan tercolek sisi kelembutannya, begitu tiba di puncak pencarian Wen.
Seperti apa yang dialami Wen, pembaca juga akan menemukan kehidupan dan budaya Tibet yang mungkin hingga saat ini tidak banyak diekplorasi penulis-penulis buku. Saya pribadi mengenal Tibet hanya cerita seputar bentangan alam, pemerintahan dan, tentu saja, Dalai Lamanya. Tapi dalam buku ini, Xinran akan membawa pembaca menukik lebih jauh ke relung-relung dasar kehidupan, tradisi, dan budaya Tibet yang (mungkin) luput dari jangkauan selama ini. Tak disangka, Tibet menjadi seting sebuah kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang terasa pahit, mengharukan, tapi akhirnya menguatkan dan memperkaya jiwa pembaca.
Saya sungguh yakin, kisah Wen benar-benar dituliskan secara apa adanya. Tapi terkadang selama membaca, saya merasa kisah ini seolah-olah sangat tidak nyata. Saya seperti sedang menonton film sejenis The Knot (karya sutradara Lin Yi dengan pemain Chen Kun dan Vivian Hsu, 2006), yang kebetulan memiliki elemen ‘penghancur’ cinta yang sama: Tibet, dokter tentara, dan Tentara Pembebasan Rakyat. Selain itu, dalam buku ini, kita juga akan menemukan keberadaan karakter-karakter seperti Zhuoma atau Tiananmen, yang jalan hidupnya terasa hanya ada di dunia fiksional.
Kisah perjalanan pencarian cinta yang memukau dan menggetarkan ini dijabarkan dalam 9 bab menggunakan perspektif orang ketiga, sebagai pengulangan kisah yang dituturkan Shu Wen kepada Xinran. Ada beberapa potongan kisah menggunakan perspektif orang pertama, yaitu dari sudut pandang Xinran. Secara keseluruhan, gaya penulisan yang digunakan Xinran tergolong sederhana, tidak berbelit-belit, membuat novel bisa dengan mudah dicerna.
Labels: Resensi
Tuesday, July 31, 2007
Review Novel ChickLit: "NGAMBEK BERAT"
ChickLit: NGAMBEK BERAT
Hissy Fit
Mary Kay Andrews
Novel dewasa terjemahan; GM 40207057; ISBN
979-22-3087-4; 656hlm; 11x18cm
Pernikahan Keeley Murdock dengan A.J. Jernigan seharusnya menjadi ajang sosial paling penting tahun ini. Masalahnya, pada malam sebelum hari H, Keeley memergoki A.J. sedang bermesraan dengan sang pendamping mempelai wanita. Pernikahan batal, dan
Keeley mengamuk habis-habisan, menjadi bahan gosip panas di kota Madison, Georgia.
Sang kesatria penyelamat datang mengendarai Cadillac kuning vintage---Will Mahoney yang tampan dan berambut merah. Ternyata malah lebih banyak persoalan datang dengan hadirnya Will. Ia menyuruh Keeley mendekorasi rumah besar dalam waktu singkat, demi wanita impiannya---wanita yang belum pernah dijumpainya.
Hanya Keeley yang bisa melakukannya. Hanya Keeley yang bisa membersihkan nama keluarganya. Dan hanya Keeley yang bisa membalas perlakuan mantan
tunangannya yang hidung belang dengan ganjaran setimpal.
Labels: Resensi
Review Buku Baru "THE WHITE LAMA"
THE WHITE LAMA
Buku 1: Reinkarnasi
Jodorowsky & Bess
Novel grafis dewasa terjemahan; GM 41007002; ISBN 979-22-2973-
UNTUK MENGALAHKAN MUSUH, PERTAMA-TAMA KITA HARUS MENGENDALIKAN DIRI SENDIRI
Ketika Lama Agung Mipam berpulang, rakyat Tibet menangis. Dengan segera kedurjanaan merebak, menyebar ke seluruh pelosok negeri. Dalam THE WHITE LAMA: REINKARNASI, dikisahkan tahun-tahun awal kehidupan Gabriel, anak sepasang penjelajah kulit putih yang dibesarkan oleh penduduk asli setelah kematian kedua orangtuanya. Gabriel adalah reinkarnasi dari sang Lama Agung, namun takdirnya ini telah dirampas dan identitasnya yang sejati disembunyikan. Dia adalah manusia terpilih dan harus diinisiasi dalam cara-cara suci untuk mempersiapkannya menghadapi kejahatan besar yang mengancam Tibet.
Alexandro Jodorowsky dan Georges Bess mempersembahkan kisah memikat yang menggabungkan unsur-unsur bela diri, kekuatan supranatural, dan kebangkitan spiritual.
Labels: Resensi